Rabu, 16 Januari 2008

Tragedi Kapal Levina


Belum lekang dari ingatan bangsa Indonesia bagaimana awal tahun 2007 dibuka dengan kabar hilangnya pesawat Adam Air. Tak berselang lama, tersiar derita baru dari perairan, Levina terbakar saat matahari belum sempurna bersinar. Banyak korban tewas, luka, bahkan hilang entah ke mana. Ayah mencari anaknya, cucu mencari neneknya, dan seorang suami terasa terhempas di pelabuhan menanti kabar istrinya.
Mereka belum lama hidup bersama, belum sempurna mengecap bahtera, hingga sang suami tak sanggup melihat kapal yang ditumpangi istri tercinta tampak dijilat api, membumbung asap, berwarna arang di tengah lautan kepulauan seribu yang tak bertepi.
Jeritan tangis meruap, pekikan-pekikan harap merayat, do'a memohon selamat tak henti terpanjat. Hanya dua pertanyaan tersisa di balik bangkai kapal yang gosong, apakah sang Istri masih hidup? Atau…
Buku ini melukiskan sebuah kisah sepasang suami istri yang berujung di lembah musibah. Ini adalah memori 22 februari di elegi pagi.

Minggu, 13 Januari 2008

3 Cara Menulis


Banyak yang menanyakan cara untuk menulis. namun pada hakikatnya hanya terdiri dari tiga bagian.
1. Mengambil Pena
2. Menulis
3. Menulis

Kamis, 10 Januari 2008

Musafir


Seorang musafir duduk berkelakar di teras masjid. Ia mengipas-ngipas topi ke tangkai leher, matanya hanya setengah membuka, dua kakinya bersilah, sedang kepala bersandar setengah patah di tiang. Ia mencermati pergantian matahari menjadi bulan.
Tiba-tiba datang seorang anak, berkopyah putih, memeluk Qur’an. Langkahnya kecil, mengantarkannya bersilah menghadap mimbar bersiap membaca Qur’an. Saat melantun suaranya terdengar melengking. Sang musafir terhenyak, melongok ke dalam berniat mendekat.
Lama musafir menunggu, duduk termangu mendengarkan lantunan kecil. Saat si kecil menutup Qur’an musafir mendekat, “Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikassalam...” si kecil tersenyum imut.
“Kenapa kau tidak bermain seperti yang lain nak?”
Si kecil sejenak terdiam, “Aku bermain, tapi di tanah lapang, di padang rumput, atau di jalan. Di masjid aku harus baca Qur’an.”
Sang Musafir merenung diam.
“Bapak tidak baca Qur’an?”
Malu Musafir menjawab, “Bapak tidak bisa Nak.”
Si kecil tak pudarkan senyuman, “Bapak kenapa di sini?”
“Bapak istirahat sejenak.”
“Kata Ibu niatkan segalanya untuk Allah, nanti istirahat bapak mendapat rahmat.”
Sang musafir memeluk si kecil, menciumnya berkali-kali, mencatat dalam buku kecilnya berhias air mata haru dari lubuk hati.

Daya Pikat



Di manapun kaki berpijak dalam kumpulan khayalak, semua mata pasti terpikat oleh keindahan. Daya pikat mengundang pandangan tulus, bukan pandangan terkejut terpatik gaduh. Mata memiliki inti yang meilih satu pemandangan.
Saat menatap gunung mata memilih puncak bermahkota awan, saat menatap laut mata memilih gulungan ombak berbuih, saat mencermati perempuan mata memilih paras selaksa makna kecantikan.
Paras memiliki pesona utama dalam mengartikan tubuh perempuan. Seindah apapun tumit kaki, selentik apapun jemari di tangan, mata tak bisa berpindah dari wajah. Paras mengandung seribu hiasan, lesung pipi, lancip dagu, mancung hidung, semua menyatu menjadi pesona utama. Tak terhitung berapa banyak kosmetik hanya untuk pipi, bibir, bahkan warna untuk celak mata sehingga menjelma menjadi sebuah sasaran tatapan nan indah tak sudi terlewat meski sekejap.
Kecantikan bagi setiap orang berbeda penilaian, ada yang suka imut, manis, dan ada yang tanpa kata, hanya enak dipandang. Tiap penilaian mengacu pada daya pikat utama perempuan, tapi justru karena hal tersebut kecantikan tak mesti berparas oval, tak harus bermata bundar, berpipi busung berlesung.
Sudah menjadi tabiat dasar jika perempuan berhias, keanehan justru tumbuh jika ada perempuan acuh, tak peduli meski hanya mengoles madu di bibir. Suami lebih tersenyum melihat istri lebih mempesona, lebih ingin berdiam di rumah melihat istri tak ada bandingannya. Bukankah dianjurkan bagi istri untuk mengubah penampilan memperbaharui kecantikan demi pasangan.
Yang patut untuk dituntut justru kata minimalis dalam menghias paras. Bibir sudah padam, jangan dibakar merah kelam. Kulit coklat manis memiliki satu tarikan tersendiri, tapi jangan memindah bedak untuk menjadi putih. Bulu mata sependek apapun sudah lentik.
Bukan tanpa akibat jika berdandan berlebihan. Awal berlebih menjadikan keharusan untuk terus berlebih saat dandan. Kesan yang datang bukan kecantikan, tapi ingin menarik orang. Orang memandang bukan terkejut karena takjub, tapi terkejut terjebak satu pertanyaan, “Apakah ini paras yang sesungguhnya?”
Berhias berarti memperindah, berlebih berarti menumpuk keindahan menjadikan yang memandang bias mencari inti kecantikan. Intinya bukan putihnya, bukan lesungnya, bukan mancungnya, tapi kesatuan paras yang sesungguhnya, bukan membuat kedok baru menjadikan perbedaan antara pipi dan tangkai leher.
Sudah menjadi sebuah hukum jika memiliki mawar harus rela tertusuk durinya. Memandang mata bak boneka, harus rela menerima pipi terlalu busung mengembung.
Daya pikat bukan sebuah muara, tapi hulu yang menjadikan orang menyisir tepian. Daya pikat hanya menjadikan orang mendekat, tapi belum tentu melekat. Tak jarang setelah itu justru menjauh. Ia adalah tarikan utama, namun belum pasti setiap wanita memiliki perekatnya.
Gunung adalah paras, awan menyelimut adalah berhias. Jika gunung meletus, semua yang mendaki lari demi keselamatan. Jika gunung tetap memendam kesunyuian, setiap yang duduk di puncak berharap untuk dapat mendiami habiskan sisa hidupnya.

Rabu, 28 November 2007

Kenangan


Tak terhapus kejadian masa silam yang berarti sebuah kenangan. Bila menyakitkan akan terus menguras air mata saat mengingatnya, bila manis selalu mengupas bibir. Setiap yang terjadi dalam batasan antara suka dan duka hanya akan dilupakan tanpa pernah tergambar jelas.
Semakin banyak duka mengartikan banyak suka, menjadikan ingatan terpenuhi memori kehidupan. Duka mengakar di hati, suka hanya di kepala yang mudah terhapus tertimbun sejarah baru saat menitik waktu.
Semakin dalam duka, semakin lama kita memendamnya, semakin lucu bila mengingatnya setelah menghapus air mata di pipi kita.

Kamis, 22 November 2007

Cermin Perempuan

Malam adalah cermin perempuan, dingin, indah, menyimpan sejuta rahasia tak pernah habis diungkap. Kesepian hadir bintang, kegelapan hadir rembulan, kegundahan hadir kesunyian, kehanjuran rahmat Kuasa turun selaksa makna.
Malam menyibak tabir hati menepis miris mengupas cermin gadis.

Rabu, 21 November 2007

Salam Affany


Ada cerita selalu menyelip dalam hitungan detik, entah berwarna duka atau suka, semua pasti memilikinya. Jika manis selalu ingin mengulang, kalaupun pahit pasti terkenang. Setiap cerita mempunyai warna, bukan hanya kita yang tentukan, tapi juga orang sekitar.
Tangisan bayi adalah cerita, tamparan ayah pada anak juga cerita, namun lebih sedap menyerap makna jika kasih yang berbicara. Tampak putih, tersenyum mengingat, menyayangkan karena tak bisa mengulang. Cerita memang cukup sekali, ke dua adalah episode selanjutnya.
Dalam setiap petikan alam orang akan mengingat kenangan, yang paling indah, cerita yang paling nyaman, paling mesra, dan cinta membuat semua hitam memutih, merah membiru. Jangan tanyakan kenapa orang saling memiliki, tentulah cinta bersembunyi.
Nikmati penggalan-pengalan cerita kecil, episode panjang, dan petualangan seseorang dalam mencari ketenangan hati demi cinta sejati.